Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Januari 2010

Curcol alias Curhat Colongan

 
Warning! Curcol alert!

Itu tulisan peringatan yang biasa saya cantumkan saat hendak menulis di blog pribadi saya bila isinya berkaitan dengan permasalahan pribadi yang hendak saya sharing sebagai pelajaran bagi semua. Ini saya lakukan karena blog saya adalah blog yang berisikan aneka hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan. Makanya, namanya Life School alias sekolah kehidupan. Namun, saya tak ingin orang merasa membuang waktu membaca tulisan saya yang nyatanya cuma berisi curhat alias curahan hati, istilah populer untuk “mengeluh” yang kalau dihaluskan bisa juga berarti “berbagi”. Saya tak ingin mereka kecewa atau “illfeel”. Karena saya juga merasakan hal ini saat membaca blog atau note di FaceBook dari beberapa teman yang isinya cuma “curcol” belaka. Misalnya ia cerita sedang sedih karena ikan koinya mati. Yeah, kita memang bisa sok simpati. Tapi jujur saja, who the hell will really care about his/her fish actually? :D

Akan tetapi, saya berupaya memberikan suatu sharing yang dapat berguna buat semua. Minimal, ada hikmah atau penyadaran yang bisa diperoleh dengan membacanya. Misalnya saya bercerita bagaimana pengalaman saya saat menjadi tim sukses salah satu pasangan calon presiden/wakil presiden dalam Pilpres 2009 lalu (baca lagi artikelnya di sini). Tentu ini menarik karena tidak semua orang memiliki kesempatan tersebut. Hanya saja terkadang ada luapan emosi di dalamnya seperti kesulitan saya mendapatkan akses ke tim pendukung lain, padahal sesama pendukung capres/cawapres yang sama. Di sisi ini saya melakukan “curcol” yang bisa jadi tidak semua orang suka membacanya. Maka, terkadang saya merasa perlu melakukan “warning”.

Dalam dunia nyata, seringkali saya mendapati orang-orang yang saya temui juga kerap melakukan “curcol”. Padahal, tak jarang mereka baru bertemu saya untuk kali pertama. Dan seringnya juga mereka melakukan itu tanpa permisi. Misalnya dalam perjalanan melakukan survei ke suatu lokasi, pegawai dari klien yang mengantarkan saya bercerita tentang anaknya yang nakal. Walah, padahal kami sedang bekerja. Dan rupanya itu sering terjadi di Indonesia. Masalah pribadi yang termasuk ranah privat malah diumbar sendiri oleh yang bersangkutan ke orang lain yang berarti melemparkannya ke ranah publik.

Padahal, di luar negeri orang mati-matian mempertahankan privasinya. Apalagi kalau mereka orang termasyhur. Tapi di sini, malah sepertinya ‘berlomba’ agar orang lain mengetahui masalah pribadi mereka. Dan itu kerapkali juga dilakukan melalui blog.

Saya bukan tak pernah melakukan itu. Mungkin malah sering. Tapi saya mencoba tidak “curcol” ke sembarang orang. Kalau pun saya melakukannya melalui tulisan di blog yang jelas ranah publik, tentu saya berharap agar ada manfaatnya bagi orang lain. Tapi kalau begitu pribadinya ya saya akan cari waktu bertemu dengan sahabat untuk “curhat beneran” yang bukan colongan. Artinya, saya sudah minta izin kepada yang bersangkutan untuk curhat dan bukan ‘nyolong’ seperti pegawai klien saya tadi. Karena kalau dicolong kan jelas kita mengambil hak orang lain toh? Itu berarti kita zalim. Makanya ,saya berusaha sedapat mungkin tidak curcol. Meminjam lirik lagu “Begadang”-nya Bang Rhoma Irama, ia berkata “jangan begadang kalau tak ada perlunya”. Maka juga jangan “curcol” kalau tak ada manfaatnya. Begitu…

[Tulisan ini pertama kali diposting di Kompasiana, 12 Januari 2010]

Sabtu, 09 Januari 2010

Headline Kompasiana & Google Search Rank

being-kompasiana-headline-google-search

Dua hari lalu, tepatnya hari Kamis (7/1) tulisan saya yang mengulas mengenai buku ‘tandingan’ atas buku George Junus Aditjondro diposting di Kompasiana.com. Tanpa dinyana, cuma dalam hitungan beberapa menit ternyata tulisan tersebut dianggap pantas untuk ditempatkan sebagai headline di blog milik situs portal berita terbesar di Indonesia tersebut.

Sebagai blog yang merupakan bagian inheren dari situs Kompas.com sebagai media terbesar di tanah air, Kompasiana memang lebih baru. Blog ini baru didirikan pada 22 Oktober 2008. Jumlah pengunjung blog site ini seperti ditulis Pepih Nugraha -admin Kompasiana- menurut Google Analytics terhitung sejak 28 Desember 2008 hingga 27 Januari 2009 sebanyak 125.542 dengan jumlah halaman yang dibaca 228.980 (klik di sini). Kalau dirata-rata, per hari pengunjung blog Kompasiana dikunjungi 4.000 kali. Saya tidak bilang 4.000 orang karena jumlah hits dihitung dari jumlah kunjungan ke halaman (page) tertentu. Sehingga, satu orang dari satu alamat I.P. (Internet Protocol) bisa berkunjung berkali-kali. Walau menurut tulisan Pepih ada 92.160 unique visitor -pengunjung tetap yang memang selalu membuka dan membaca Kompasiana- namun tetap saja itu merupakan hitungan dari alamat I.P. Selain adanya proxy, seseorang mungkin saja mengakses  dari berbagai tempat. Maka, angka unique visitors pun tetap hanya bisa dihitung sebagai angka pengakses per alamat I.P., bukan sebagai orang.

Angka besar ini penting apalagi bagi sebuah situs internet yang bertujuan promosi. Walau blog bersifat social community site, namun tingginya hits menunjukkan makin pentingnya blog tersebut bagi para web surfer. Makin tinggi hits suatu situs, baik itu web site atau blog site, maka makin tinggi pula popularity rank-nya. Dengan demikian kans untuk terindeks di urutan atas mesin pencari makin tinggi.

Saya pun penasaran mengecek google search rank atas tulisan saya tersebut. Karena Kompasiana sudah terindeks di google, maka pasti dalam hitungan detik semua tulisan di sana akan terindeks pula di google. Benar saja, dengan kata kunci (keyword): “resensi hanya fitnah” (”hanya fitnah” adalah dua kata awal dari judul buku tandingan tersebut. Baca postingan hari Kamis kemarin di sini), tulisan saya sudah terindeks di google, mesin pencari paling populer dan terbanyak digunakan di jagat maya.

Hanya saja saya agak heran, kenapa tautan (link) atas tulisan saya tersebut hanya berada di peringkat keempat (lihat gambar yang dilingkari merah)? Ternyata setelah saya cermati, ketiga tautan lain di atas tautan tulisan saya ternyata cuma tautan pemancing. Ini adalah trik yang lazim digunakan dalam SEO (Search Engine Optimization). Dengan algoritma khusus, software mencari keyword yang sedang banyak digunakan web surfer. Lantas, keyword tadi segera dijadikan tautan di situs yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai landing page. Kalau pengunjung mendatangi situs-situs itu, cuma akan mendapati situs kosong berisi aneka tautan belaka. Kebanyakan tautan justru iklan yang isinya menawarkan aneka program “cepat kaya tanpa kerja”. Karena efektifnya software tersebut, mereka mampu memanfaatkan glitch yang terdapat di search engine bot.

Saya pun mengurut dada. Kini mencari uang tampaknya seperti menghalalkan segala cara. Termasuk melakukan penipuan melalui teknologi canggih seperti website. Pengunjung yang tertipu mendatangi situs pemancing tadi untuk mencari tulisan tertentu, diharapkan mengklik tautan lain yang akan berujung pada situs yang menawarkan program “cepat kaya tanpa kerja” tadi. Apalagi di banyak negara, ranah maya ini belum masuk jangkauan hukum secara memadai. Indonesia walau punya UU ITE, jelas masih jauh dari mampu untuk menjerat “kejahatan terselubung” semacam ini.

Padahal, fungsi SEO sejatinya mulia. Ia merupakan alat pemasaran di dunia maya, sebagai bagian dari viral marketing. Namun, karena jatuh ke tangan para ‘bandit maya’, maka alat itu pun berubah jadi berbahaya. Karena itu, bila mencari tulisan dengan mesin pencari, perhatikan benar kemana tautan itu berlabuh. Hanya klik jika tautannya ke situs terpercaya (ditandai dengan tulisan tautan berupa http://www……… berwarna biru dengan font lebih kecil di bawah penjelasan isi judul yang didapat mesin pencari). Seringkali situs yang cuma situs pemancing berciri ada kata “money”, “click”, “SEO”, “rating”, atau semacamnya. Maka, dalam kasus tulisan postingan saya di Kompasiana, sejatinya tulisan saya berada di rank pertama dalam google search di atas. Karena tiga tautan lain di atas tautan tulisan saya cuma landing page kosong. Abal-abal belaka!

[Tulisan ini juga diposting di Kompasiana, 9 Januari 2010]

Sabtu, 08 Agustus 2009

Nge-Blog Dong! Biar Nggak Goblok!

Blog? Apaan tuh?

Begitu mungkin bagi yang tidak mengikuti perkembangan teknologi atau biasa dijuluki “gaptek” alias gagap teknologi.  Tapi bagi yang mengerti, blog telah menjadi sarana luar biasa bagi pribadi-pribadi non-jurnalis untuk mengungkapkan diri dan ekspresinya. Seiring dengan fenomena bertumbuhnya internet sebagai media alternatif, blog telah menjadi sebuah media yang menantang media konvensional.

Sebenarnya, apa sih blog itu? Untuk gampangnya, kita bisa menyebutkan blog sebagai sebuah media yang tayang di jaringan internet. Bedanya dengan media internet yang dikenal sebagai portal, blog merupakan sebuah sarana yang dikelola pribadi dan bukan perusahaan. Mulanya, blog dibuat semata sebagai  sebuah buku harian atau jurnal online. Matt Mullenweg misalnya menyatakan ia membuat Wordpress bukan untuk tujuan komersial, namun sebagai sarana komunikasi bagi teman-temannya. Ini mirip dengan Mark  Zuckenberg pendiri FaceBook yang memiliki motivasi awal serupa.

Menurut blogherald.com, pada bulan Juli 2005 saja telah terdaftar tak kurang dari 70 juta blog di seluruh dunia. Dengan pertumbuhan yang cepat, bisa diprediksi di tahun 2009 ini kemungkinan besar jumlah blog mencapai lebih dari 100 juta blog. Meski tidak semua blog aktif, namun tetap saja fenomena ini mencengangkan. Mengingat dunia kepenulisan semula dianggap eksklusif, namun kini semua orang “bisa jadi wartawan”. Ini kemudian menelurkan fenomena lain yaitu citizen journalism atau jurnalisme warga. Dengan blog, semua orang bisa menuliskan apa pun. Itulah yang dikemukan Iskandar Zulkarnaen yang sehari-harinya merupakan copywriter Kompas.com dalam acara blogshop.

Didasari keinginan untuk membantu para penulis blog-nya di Kompasiana itulah, harian Kompas pada hari ini, Sabtu (8/8) menyelenggarakan blogshop bertema “Kiat Cepat Menulis di Blog”. Tentu saja, pesertanya beragam. Dari yang sudah berpengalaman hingga yang baru niat menulis blog. Walau materinya terasa kurang mendalam bagi “pemain lama”, blogshop ini setidaknya memberikan kesempatan bagi sesama blogger untuk berkomunikasi.

Bagi saya sendiri, keinginan untuk ber-networking lebih kental. Sebabnya , dengan peserta beragam, tentu saja materinya akan lebih mendasar. Dan dugaan saya tidak salah. Walau bagaimanapun, fenomena blogging ini juga melanda Indonesia. Menurut data Wordpress, bahasa Indonesia merupakan bahasa ketiga yang terbanyak digunakan di situs blog gratis itu. Data senada juga dikemukakan oleh Amril Taufik Gobel yang menjadi pembicara. Sebagai Ketua Komunitas Blogger Makassar atau dikenal sebagai angingmamiri.com, ia menyatakan anggotanya saja sudah 3.500 orang. Merujuk pada keterangan Enda Nasution, diperkirakan di Indonesia terdapat tak kurang dari 500.000 blog.

Yang jelas, menulis di blog membuat otak “berolahraga”. Belum lagi manfaat lain seperti beraktualisasi dan menambah teman. Menulis blog juga membuat kita tetap update dengan ilmu dan informasi. Makanya, nge-blog biar nggak goblok!

[tulisan ini dibuat sebagai bagian dari BlogShop Kompasiana, diposting juga di Kompasiana, 8 Agustus 2009]